Ummah, aku harap engkau dapat membaca tulisan ini. tulisan biasa yang bisa sedikit membuat hati ku tenang. di kala hari pertama kita mulai dekat, engkau merisaukan bebrapa hal. aku sangat mendegarkan. di perjalan dari Jogja ke makassar. itu yang aku dengar kan. curhatan hati mu. kerisauan mu terhadap sahabat yang pernah hadir dalam hidup mu. rasa rindu kepada keponakan mu yang masih sangat lucu itu. dan banyak perjuangan yang sempat kau beberkan ke aku. aku heran, mengapa engkau banyak membuka cerita kepada ku. dan akhirnya aku memilih untuk menjadi pendengar yang baik. pendegar yang setia. dan di saat sikap ku yang tidak wajar, sempat menggoyang bahtera yang selama ini berlayar dengan mulus. kini terombang-ambing terkena ombak keegoisan ku, umah. tahukah kamu, aku kali ini juga ingin berbicara banyak pada mu. mungkin saat ini masih ada sesal. tapi mohon, lupakan itu semua. aku ingin bercerita. tolong dengarkan aku... !
Di sini, di tengah keluarga yang sangat sederhana, Aku kembali bertemu keluarga ku. keuarga yang sangat biasa. keluarga yang apa adanya. Dengan 4 orang adik, ayah yang berjuang melawan penyakit yang diderita, dan ibu kuat yang menjadi penyemangat hidup. kita sudah bertemu kan. kamu sudah melihat betapa kurangnya aku. betapa tidak sabarannya aku. betapa buruknya aku. ketika engkau seharusnya khusyuk ibadah, dan sering sikap ku membuat mu tidak nyaman. maafin aku yah, aku masih belajar memaknai kehidupan ini. roda kehidupan mengantarku pada klimaks penyesalan. dahulu hidup ku stabil, bisa belajar dan juga mengais rejeki. kini, seperti ummah tahu, aku juga tidak bisa ikut ujian. itu karena apa? iya karena jaringan atau relasi yang sangat fatal, sesak dada ini bila aku paparkan semua tentang mereka.
AWAL OBROLAN...
Bermula ketika engkau mau balik ke indonesia, ketika aku butuh sesuatu kau hadir dan mengadakan jasa itu. Iya, waktu itu kamu menyediakan bagasi kan? itu awal dari percakapan kita. tapi, perlu kamu ketahui, tentang bisnis yang pernah kita obrolkan. semuanya pernah diukur. tapi, mungkin katamu ekspektasi. tapi, alhamdulillah sedikit ada celah untuk menyambung perencanaan ini. project yang sudah aku usung beberapa tahun lamanya. iya, mungkin ada 2 atau 3 tahun lalu. ketika aku masih sering bermimpi dan menghabiskan malam ku dengan pemikiran-pemikiran aneh. mungkin aku seperti mu. aku suka merencanakan sesuatu. Tapi, adanya kamu tegar dan disiplin. Aku lebih sering diremuk dan dibawa ombak. Entah sekarang aku terdampar dimana. di satu sisi, engkau konsisten dan pendirian mu sangat kuat. aku lebih senang dibawa arus kehidupan. aku jujur, baru belajar membina prinsip itu. iya, mungkin setelah kamu mengenal ku. di saat itu aku sangat banyak belajar tentang ''semengat indah mu''.
mungkin, aku adalah fans mu. pembaca setia dari cerita yang kau saji di muka laman mu. ceritanya jujur dan sangat detail. persis dengan kpribadian mu, ummah. iya memang, keluarga sangat berpengaruh dengan karakater seseorang. keluarga pembisinis, pejuang, dan tak pantang menyerah. Bisa saja, ketika aku dalam kondisi mu aku sudah hilang dari peredaran. dengan kuatnya, kamu bisa bertahan tanpa asupan dari saudara laki-laki mu. kaka yang sebagai orang tua mu selama di negri rantau. bumi kinanah. bumi para Nabi-Nabi Allah diuji. bumi yng menghasilkan banyak manusia hebat yang mampu menjawab tantangan zaman. iya, aku pernah membaca tulisan mu di salah satu judul di '' merah putih di negri kinanah'', aku ingat tentang sekantung ikan yang tertinggal itu. aku ingat, iya.. kejujuran dan dedikasi orang mesir itu kan?
ibarat bintang, kau seperti kejora di hitamnya malam. ketika orang lain mengambil jurusan yang memang biasanya. kau luar biasa dengan pilihan mu itu. tampil cantik dan percaya diri di setiap seoson. makanya aku sempat bilang, keuletan mu itu nilai jualnya tinggi. itu, ketika aku sok jadi seorang pengusaha. padahal tahu ngak', waktu itu aku masih baru mau siap-siap pulang untuk ditipu. iya, diantara relasi yang ku miliki, baru dari Prof. Haryoko yang buatku hidup. Dari Mahpud, kepala gundul tangan kanan penipu Buyung mareso. aku bersahabt lama dengannya di kali bata city. ternyata dia juga orang gagal yang tersesat di Jakarta. aku yang datang langsung dilahap, ibarat buaya yang ketemu daging empuk. Mareso lah yang buat iya percaya diri. kemudian pak Daud, masih ingat kan? iya juga korban Mahpud dan Mareso yang ujung-ujungnya sekarang ia sudah melarat. Berat ya kehidupan di Jakarta, ummah. aku lebih bisa merasakan ketenangan di kota solo, atau salatiga. dimana kini aku berkantor dan memulai menjalankan karir bisnis di kota jawa tengah ini.
Ummah, tahu kah saat ini. aku terus mencoba untuk memahami diri ku. aku masih sulit menjadi lelaki yang ada dalam imajinasimu. seorang penyabar dan rajin ibadah, seorang yang dapat diandalkan. aku masih jauh dalam kategori itu. aku tidak mundur untuk apa yang sudah aku tanamkan dalam diri ku. cinta, karir, dan agama, semuanya butuh perjuangan kan. aku malu menuliskan ini untuk mu. tapi, bagiku aku ingin terus terbang dengan dua sayap yang kau titipkan. aku ingin menunggu subuh di malam penantian. di kala pintu terbuka lebar. izinkan aku masuk ke dunia mu. sama seperti awal kau buka kan aku pintu untuk mengenal dunia mu. ketika aku terlalu ambisius, kau pun meutup dan berlahan mebukakan lagi untuk ku.
Apa arti pertemuan ini..
pertemuan kita entah seperti dorongan yang membuat energi ini bertambah. sistem imunitas dalam tubuh ku menguat. Dikala tekanan demi tekanan ku rasakan. sampai suatu hari, di atas gedung kos lantai tiga. pada waktu itu aku berdiri di tepian teras jemuran. ditemani batangan rokok, memejamkan mata dan rasanya ingin berteriak sekersa-kerasnya. tapi, akal masih menahan tingkah frustasi ku. ratusan juta habis dilahap srigala. iya, maaf aku mengatakan dia sebagai Srigala berbulu domba. Dengan wajah teduh dan kini brerhasil menghabisi ku. Aku seperti dihantam badai kencang saat itu. dikala aku menghisap batangan haram, rasanya pun aku ingin melompat dari ketinngian lantai 3 itu. Ibu menelpon, menyemangatiku dan memberi ku harapan utnuk bisa kembali bertahan.
ummah, kita dipertemukan karena sebuah komitmen bukan,.? dahulu aku berkata demikian dan kamu ingin berlaku fear. iya, kawan yang dari belanda yang kau tidak jadi jumpai. aku merekam pernyataan itu, ummah. dan banyak lelaki yang coba mendekati mu. Itulah, di awal obrolan kita aku pun sudah menyangka. Ternyata, prediksi ku pun berlaku. Empat tahun aku tidak menampakkan diri. karena takut cinta ini bertepuk sebelah tangan. dan yang terjadi, persis yang aku katakan bukan?...
ketika kau memarahi ku karena ucapan ku yang tidak terukur. mungkin, kurang etis dalam kamus hidup mu. Aku kau marahi dan waktu itu memang kondisimu kurang baik kan? ummah' waktu itu diujung video note yang kau kirimkan. aku ingat ujung perktaanmu, ummah. kamu berkata ''saya menunngu lelaki yang memperjuangkan cintanya''. kalimat terhenti, pipiku merona. Cinta, dahulu aku tidak mengerti apa itu cinta. tapi kini, stetmen itu pun yang lebih bnyak menghadangku. kadang menghajar dan membuat aku jalan dengan pincang. kadang tidak stabil. iya, prosesnya ketika kamu block aku di saat yang terakhir. aku berjalan tiada karuan. ketika klimaks permalasalahan ini meledak. kau hilang entah kemana. lebih parahnya, kau tidak memberi ku celah untuk aku bisa bernafas.
Rasanya dada ini dibungkam. pikiran ini dihimpit. Hal yang paling memilukan, ketika Ashraf memperlihatkan obrolan what's App mu dengan-nya. ketika membaca kalimat mu yang menyatakan aku ini seorang yang tidak jujur. lebih memperparah konsistensi ku. Rasanya remuk tulang ini. Rasanya aku ingin lari dari kenyataan pahit, dinilai olehmu. Ingat, ketika di kota wahyu itu, Aku naik ke tempat mu dan seolah hilang akal sehat ku. Mengejar dan ingin meraih maaf mu. iya, aku memang gila dan terus terbawa suasana emosional yang mengombang-ambing. pemikiran brutal ditambah dengan sms yang kau kirimkan ke ashraf bahwa pada saat itu aku sudah ''mengusir mu''. Hancur dan betul-betul kau hancurkan diri ini. kau menilai ku di saat aku terbakar. Di saat aku jatuh lebur dalam jurang hitam produk Mareso dan sekutunya.
Ummah, demi rasa sayang yang saat ini menjadi energi ku. Menjadi penyeimbang antara kegagalan dan semanagt mengejar keteringgalan. Pada saat itu Aku memang risau karena kecemburuan. Aku tidak sanggup mendenger ''penolakan dan kata tidak cocok''. Mencintai seseorang itu tiada takaran dan ukuran pastinya. Mungkin, saat ini kau menutup gerbang Istana mu. Meski sekuat apa pun diriku. Tetap, kapisitas ku tidak akan mampu merasuki benteng pertahan yang sangat kokoh itu. Ber-namakan prinsip dan hidup untuk masa yang lebih panjang menurut mu. kau betul-betul kuat untuk menjaga kehormatan mu. Maaf telah banyak membuat mu risih karena sikap ku yang membuat mu terganggu. Maaf, karena sikap respect ku belum bisa terbca oleh mu. Meski kau tahu, sikap mu telah membuat ku hidup di tengah bangkai persoalan. setiap sesuatu ada solusnya kan?. mencintai mu dalam diam dan do'a mungkin lebih baik untuk ku sekarang.
Terimakasih, dan aku berharap, di hadapan dinding besar ini. aku berdiri dan kembali bersimpuh hingga saatnya kau bukakan gerbang itu. ada waktunya dan aku akan menunggu... !
bersambung.....
Di sini, di tengah keluarga yang sangat sederhana, Aku kembali bertemu keluarga ku. keuarga yang sangat biasa. keluarga yang apa adanya. Dengan 4 orang adik, ayah yang berjuang melawan penyakit yang diderita, dan ibu kuat yang menjadi penyemangat hidup. kita sudah bertemu kan. kamu sudah melihat betapa kurangnya aku. betapa tidak sabarannya aku. betapa buruknya aku. ketika engkau seharusnya khusyuk ibadah, dan sering sikap ku membuat mu tidak nyaman. maafin aku yah, aku masih belajar memaknai kehidupan ini. roda kehidupan mengantarku pada klimaks penyesalan. dahulu hidup ku stabil, bisa belajar dan juga mengais rejeki. kini, seperti ummah tahu, aku juga tidak bisa ikut ujian. itu karena apa? iya karena jaringan atau relasi yang sangat fatal, sesak dada ini bila aku paparkan semua tentang mereka.
AWAL OBROLAN...
Bermula ketika engkau mau balik ke indonesia, ketika aku butuh sesuatu kau hadir dan mengadakan jasa itu. Iya, waktu itu kamu menyediakan bagasi kan? itu awal dari percakapan kita. tapi, perlu kamu ketahui, tentang bisnis yang pernah kita obrolkan. semuanya pernah diukur. tapi, mungkin katamu ekspektasi. tapi, alhamdulillah sedikit ada celah untuk menyambung perencanaan ini. project yang sudah aku usung beberapa tahun lamanya. iya, mungkin ada 2 atau 3 tahun lalu. ketika aku masih sering bermimpi dan menghabiskan malam ku dengan pemikiran-pemikiran aneh. mungkin aku seperti mu. aku suka merencanakan sesuatu. Tapi, adanya kamu tegar dan disiplin. Aku lebih sering diremuk dan dibawa ombak. Entah sekarang aku terdampar dimana. di satu sisi, engkau konsisten dan pendirian mu sangat kuat. aku lebih senang dibawa arus kehidupan. aku jujur, baru belajar membina prinsip itu. iya, mungkin setelah kamu mengenal ku. di saat itu aku sangat banyak belajar tentang ''semengat indah mu''.
mungkin, aku adalah fans mu. pembaca setia dari cerita yang kau saji di muka laman mu. ceritanya jujur dan sangat detail. persis dengan kpribadian mu, ummah. iya memang, keluarga sangat berpengaruh dengan karakater seseorang. keluarga pembisinis, pejuang, dan tak pantang menyerah. Bisa saja, ketika aku dalam kondisi mu aku sudah hilang dari peredaran. dengan kuatnya, kamu bisa bertahan tanpa asupan dari saudara laki-laki mu. kaka yang sebagai orang tua mu selama di negri rantau. bumi kinanah. bumi para Nabi-Nabi Allah diuji. bumi yng menghasilkan banyak manusia hebat yang mampu menjawab tantangan zaman. iya, aku pernah membaca tulisan mu di salah satu judul di '' merah putih di negri kinanah'', aku ingat tentang sekantung ikan yang tertinggal itu. aku ingat, iya.. kejujuran dan dedikasi orang mesir itu kan?
ibarat bintang, kau seperti kejora di hitamnya malam. ketika orang lain mengambil jurusan yang memang biasanya. kau luar biasa dengan pilihan mu itu. tampil cantik dan percaya diri di setiap seoson. makanya aku sempat bilang, keuletan mu itu nilai jualnya tinggi. itu, ketika aku sok jadi seorang pengusaha. padahal tahu ngak', waktu itu aku masih baru mau siap-siap pulang untuk ditipu. iya, diantara relasi yang ku miliki, baru dari Prof. Haryoko yang buatku hidup. Dari Mahpud, kepala gundul tangan kanan penipu Buyung mareso. aku bersahabt lama dengannya di kali bata city. ternyata dia juga orang gagal yang tersesat di Jakarta. aku yang datang langsung dilahap, ibarat buaya yang ketemu daging empuk. Mareso lah yang buat iya percaya diri. kemudian pak Daud, masih ingat kan? iya juga korban Mahpud dan Mareso yang ujung-ujungnya sekarang ia sudah melarat. Berat ya kehidupan di Jakarta, ummah. aku lebih bisa merasakan ketenangan di kota solo, atau salatiga. dimana kini aku berkantor dan memulai menjalankan karir bisnis di kota jawa tengah ini.
Ummah, tahu kah saat ini. aku terus mencoba untuk memahami diri ku. aku masih sulit menjadi lelaki yang ada dalam imajinasimu. seorang penyabar dan rajin ibadah, seorang yang dapat diandalkan. aku masih jauh dalam kategori itu. aku tidak mundur untuk apa yang sudah aku tanamkan dalam diri ku. cinta, karir, dan agama, semuanya butuh perjuangan kan. aku malu menuliskan ini untuk mu. tapi, bagiku aku ingin terus terbang dengan dua sayap yang kau titipkan. aku ingin menunggu subuh di malam penantian. di kala pintu terbuka lebar. izinkan aku masuk ke dunia mu. sama seperti awal kau buka kan aku pintu untuk mengenal dunia mu. ketika aku terlalu ambisius, kau pun meutup dan berlahan mebukakan lagi untuk ku.
Apa arti pertemuan ini..
pertemuan kita entah seperti dorongan yang membuat energi ini bertambah. sistem imunitas dalam tubuh ku menguat. Dikala tekanan demi tekanan ku rasakan. sampai suatu hari, di atas gedung kos lantai tiga. pada waktu itu aku berdiri di tepian teras jemuran. ditemani batangan rokok, memejamkan mata dan rasanya ingin berteriak sekersa-kerasnya. tapi, akal masih menahan tingkah frustasi ku. ratusan juta habis dilahap srigala. iya, maaf aku mengatakan dia sebagai Srigala berbulu domba. Dengan wajah teduh dan kini brerhasil menghabisi ku. Aku seperti dihantam badai kencang saat itu. dikala aku menghisap batangan haram, rasanya pun aku ingin melompat dari ketinngian lantai 3 itu. Ibu menelpon, menyemangatiku dan memberi ku harapan utnuk bisa kembali bertahan.
ummah, kita dipertemukan karena sebuah komitmen bukan,.? dahulu aku berkata demikian dan kamu ingin berlaku fear. iya, kawan yang dari belanda yang kau tidak jadi jumpai. aku merekam pernyataan itu, ummah. dan banyak lelaki yang coba mendekati mu. Itulah, di awal obrolan kita aku pun sudah menyangka. Ternyata, prediksi ku pun berlaku. Empat tahun aku tidak menampakkan diri. karena takut cinta ini bertepuk sebelah tangan. dan yang terjadi, persis yang aku katakan bukan?...
ketika kau memarahi ku karena ucapan ku yang tidak terukur. mungkin, kurang etis dalam kamus hidup mu. Aku kau marahi dan waktu itu memang kondisimu kurang baik kan? ummah' waktu itu diujung video note yang kau kirimkan. aku ingat ujung perktaanmu, ummah. kamu berkata ''saya menunngu lelaki yang memperjuangkan cintanya''. kalimat terhenti, pipiku merona. Cinta, dahulu aku tidak mengerti apa itu cinta. tapi kini, stetmen itu pun yang lebih bnyak menghadangku. kadang menghajar dan membuat aku jalan dengan pincang. kadang tidak stabil. iya, prosesnya ketika kamu block aku di saat yang terakhir. aku berjalan tiada karuan. ketika klimaks permalasalahan ini meledak. kau hilang entah kemana. lebih parahnya, kau tidak memberi ku celah untuk aku bisa bernafas.
Rasanya dada ini dibungkam. pikiran ini dihimpit. Hal yang paling memilukan, ketika Ashraf memperlihatkan obrolan what's App mu dengan-nya. ketika membaca kalimat mu yang menyatakan aku ini seorang yang tidak jujur. lebih memperparah konsistensi ku. Rasanya remuk tulang ini. Rasanya aku ingin lari dari kenyataan pahit, dinilai olehmu. Ingat, ketika di kota wahyu itu, Aku naik ke tempat mu dan seolah hilang akal sehat ku. Mengejar dan ingin meraih maaf mu. iya, aku memang gila dan terus terbawa suasana emosional yang mengombang-ambing. pemikiran brutal ditambah dengan sms yang kau kirimkan ke ashraf bahwa pada saat itu aku sudah ''mengusir mu''. Hancur dan betul-betul kau hancurkan diri ini. kau menilai ku di saat aku terbakar. Di saat aku jatuh lebur dalam jurang hitam produk Mareso dan sekutunya.
Ummah, demi rasa sayang yang saat ini menjadi energi ku. Menjadi penyeimbang antara kegagalan dan semanagt mengejar keteringgalan. Pada saat itu Aku memang risau karena kecemburuan. Aku tidak sanggup mendenger ''penolakan dan kata tidak cocok''. Mencintai seseorang itu tiada takaran dan ukuran pastinya. Mungkin, saat ini kau menutup gerbang Istana mu. Meski sekuat apa pun diriku. Tetap, kapisitas ku tidak akan mampu merasuki benteng pertahan yang sangat kokoh itu. Ber-namakan prinsip dan hidup untuk masa yang lebih panjang menurut mu. kau betul-betul kuat untuk menjaga kehormatan mu. Maaf telah banyak membuat mu risih karena sikap ku yang membuat mu terganggu. Maaf, karena sikap respect ku belum bisa terbca oleh mu. Meski kau tahu, sikap mu telah membuat ku hidup di tengah bangkai persoalan. setiap sesuatu ada solusnya kan?. mencintai mu dalam diam dan do'a mungkin lebih baik untuk ku sekarang.
Terimakasih, dan aku berharap, di hadapan dinding besar ini. aku berdiri dan kembali bersimpuh hingga saatnya kau bukakan gerbang itu. ada waktunya dan aku akan menunggu... !
bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar