Belajar itu membuat orang tidak tahu menjadi tahu, Mengupas kepribadian hingga menjadi dewasa, Memb

Minggu, 17 Mei 2015

syair hayat ku part 2

engkau kembali meransang imajinasi ku. lemah tapi berdaya. berjalan pada rel yang sulit, engkau telah memilih sukarnya jalan mu. aku salut dengan kerja keras mu. aku tak inigin orang lain menjauhkan mu dari cita-cita mu. lihat lah dirinya yang tertidur pulas. dengan semangat baja dia menginjak bumi fir'aun dengan brgitu perkasah. ditimpah panasnya gurun diapun meleleh tak berdaya. aku salut dirimu dik yang masih tegar melawan arus yang sulit.

hari-hariku begitu sulit. aku ingin bermanfaat bagi orang lain. aku ingin punya sesuatu yang dilebihkan dari orang-orang lain. ini adalah dunia, tapi aku butuh itu untuk memperbaiki diriku dan orang lain. aku ingin secepatnya meraih bintang. aku ingin secepatnya mengambil mimpiku. tapi aku harus tertidur. aku harus menutup mata. sampai tuhan mengantarku pada impian. impian yang mengajariku untuk selalu syukur akan hidup ku.

wataknya yang makin pemarah. dirinya yang semakin diam. seolah ribuan kesesalan yang hendak dilontarkan ke dunia ini. dunia yang mengantarnya menjadi bosan. hai.. lihatlah dirimu… ! dengan batangan rokok itu dia sudah menghancurkan mu. dengan cita-cita dan gagasan mu yang ciut engkau bermain di atas kobaran api membakar.

aku tidak mengerti apa yang tengah dipikirkan anak itu. dia yang pernah membanggakan ku. dia yang pernah mengidolakan ku, dia yang selalu mau mengikuti jejak dan petua ku. sekrang sudah ciut dibakar oleh batang rokoknya. kamu tidak sekuat dia yang pekerja itu. lihatlah tubuh kerempengnya yang khas. kerja kerasnya yang mudah-mudahan kelak ia rasakan hasilnya. setelah kesusahan pasti ada kemudahan. itu untuk mu yang keras dalam menjani hidup.

tapi ada lagi satu kisah. kisah tentang anak yang giat dan selalu bercerita. dia tidak ada beban yang dipikul. berjalan tanpa dosa, tanpa menghiraukan orang sekitar. aku meminta kepadanya untuk sebuah harapan hidup. tempat bersandar tapi dirinya tidak akan rela bila permatanya aku rebut dari genggamannya. hingga sang malam pun merebut terang dari dirinya. permatanya kabur dibawa tentara gelap berkuda hitam. tiada kesan sulit yang ia pamerkan. dia hanya manusia abil yang tidak punya tujuan. harapannya pupus dimakan logika. logikanya hilang ketika nafsunya merona biru.

sunnguh dunia ini penuh ceritaaa....

ada seorang pengamat dan pemikir hebat. logikanya membuat seorang itu terpandang. mungkin di mata ku. mungkin di mata teman ku, mungkin di mata banyak orang. dengana gagasan dan pegalaman hidupnya dia ingin menghantam dunia. tpi nyalinya tak seperti yang aku byakangkan. logika berkabut di kala pagi menyongsong, sang sinar terbentang kabut pun hilang dari peradaran. aku cinta logika mu, tapi aku tidak senang cara mu memandang orang yang lebih rendah dari mu. engkau bagai pahalawan yang tidur di kemerlapan dunia ku.


tahukah kamu, aku sedang bermimpi. aku salut dengan si kurus yang bau amis itu. berjuang sekeras kesatria. demi cita-citanya, kesulitan ia terpa tanpa mengetaskan logika. aku sayang kalian, tapi aku tak sebaik nabi, tak secerdas merapti, tak seindah lautan bila sang sinar telah berlabu di pelukan pantai. Begitulah aku yang masih terbawa arus, entah kapan aku berlabu. Berlabu pada daratan cinta tempat tinggal yang diidamkan. Peluk sayang untuk ku. Aku merindukan Mu.. 

Manusiawi yang rentan

gejola jiwa muda makin tak terbendung. aku makin sesat dalam pikiranku yang tak karuan. hasrat ku merobek jantung dan paru-paruku. aku ingin apa, bagaimana aku tahan godaaan syahwat ini. rasanya ingin keputus semua apa yang membuat ku bangkit melawan harga diri. oh... begitu sulit rasanya menahan keinginan itu. rasanya aku ingin mati saja, bila aku tidak bisa menikmati rasanya untuk melampiaskan. rasa ini, tak sanggup aku menahan. aku ingin terbang dan terjangkit virus ketagihan itu..

aku bagai penggunan yang terbius oleh nikmatnya narkotika. nikmatnya terbang disaat hirupan itu masuk lalu merasuk ke paru-paru ku. aku bagai peminum, yang merasakan nikmat membakar tenggorkan ku. ohh.. beginikah yang rasanya kebergantungan. aku ingin berhenti menjadi seperti itu. tapi daya dan nyali ku tak sekuat dan sebesar gunung ya ku pandang. iya gunung itu. ia nampak besar dan berbatu. tak sedikit ada pohonnya. sungguh besar dan aku tak yakin mampu mendakinya.


itulah angan ku yang setinggi gunug
seindah nyanyian burung yang berssandung dalam denung

aku ingin kemana...
dihadapan ku ada lautan dalam
aku akan menyalam dan hanya menunggu muara.


sanggupkah aku melawan kedalaman lautan, sanggupkah aku menyisiati paru-paru ku. sanggup kah jantung ini terus berdenguk. sanggupkah aku sampai pada daratan... aku tidak yakin aku bisa sampai pada masa depan ku. aku masih hidup untuk sampai di titik itu. semuanya hanya mimpi, tapi mimpi butuh kejutan hidup yang realistis. Mampukan Aku Tuhan..