bermodal cita-cita engkau datang ke negri fir'aun. dengan kekurangan mu
kau tiba dengan segudang cerita dan khayalan. dunia ini milik mereka yang kuat
dik. engkau dan harapan mu ingin menggoncang dunia. tapi, lihat lah dirimu...!
sekurang apanya dirimu.. apa yang kamu lebihkan dari mereka orang-orang lain.
aku keras karena dunia ini keras. kamu bersandar di sisi orang yang berjuang
mengejar kehidpannya. semnetara pundakku memikul banyak jiwa.
kau lemah tak sekuat besi. bersandar pada
papan yang rapu. meski kamu bisa kembali tegap itupun hanya merepotkan ku. aku
harus meluruskan pundak mu. bahkan sesekali menyuapi mu. terus apa yang harus
aku kerjakan untuk diriku. sementra diri ini mempunyai adik-adik yang harus
diantar menuju gerbang dunianya. sudahlah.. aku tidak meminta kau mengmbalikan
itu semua, makanan yang sudah kamu makan, pkaian yang kau pakai.. kamu adalah
orang baru dalam hidup ku.. tapi aku berjuang untuk kamu bisa tetap hidup.
memang sulit menjadi orang yang punya,
memiliki perasaan yang begitu peka. semua kenikmatan harus dinikamti
orang-orang sekitar. semetara bukan mereka yang membanting tulang. bukan mereka
yang berjuang. tapi aku... dengan segudang angan aku sisipkan kehidupan ini di
saku biruku. berharap Allah menjadikan tabunganku di dunia ini, menjadi manfaat sampai aku berpindah dari kehidupan
fana ke kehidupan yang sebenarnya.
dengan motode mahadahsyatNya, Allah pun
mengadakan solusi diantara ego dan keinginan ku untuk berbagi.
lihatlah betapa Tuhan memperlihatkan
kebijaksanaan dan keperkasaanNya. dengan
adilnya mengatur segala perkara duniawi setiap insan. aku yang kering akan
sedekah ditunjukan kepada orang-orang yang butuh. secara matematis pun tanpa
merugikan ku. Ya Allah.. inilah kadar imanku yang masih lemah. mungkin suatu
saat bila perkara keimanan itu sudah sampai pada maqam orang-orang bertawakkal,
insyaAllah bisa pada tahap dimana hanya kepada Allah seluruh yang aku punya.
kehidupan adalah madrasah.
dimana setiap orang belajar pada setiap tingkatannya...
***
Hari ini, diuji lagi dengan sikap ego..
susah mengikhlaskan. pikiran-pikiran terus menghantui, sementara itu hidupku
pun terbengkalai. hidupku dimasa sekarang inilah yang sedang aku lakoni. Hidup di masa
mendatang masih misteri Ilahi. entah aku diposisikan di posisi yang mana. tapi,
bukan kah ku harus meraba jadi apa aku
nanti. atau hanya diam bersabar dengan kehendak apa Tuhan akan memposisikan ku.
Ya Allah, mengapa kehidupan ini begtu sulit, engkau titipkan akal untuk aku
berperang melawan diriku. engkau adakan nafsu agar aku bisa makin kuat
menghadapi hidup ini.
sementara itu pikiran masih meraja lela di
kepala makhluk dhoif ini. seraya menjajah ku sampai aku harus tunduk pada
dunia. aku ingin bersabar, tapi sampai kapan. aku ingin melawan, dengan apa.
kelemahan itu sulit diterka, kadang kelemahan itu menjadi kuat dan kadang
menjadi penguasa diriku. tidak lurus jalan ceritanya, selalu saja berputar pada
porosnya. itulah aku dan kekuatan ku. iman itu silih berganti kosistensinya.
kadang datang dengen beribu bala pasukannya. kadang hilang entah kemana. aku
yang mengaburkannya atau sulit menjaganya..
kesabaran itu kian menjadi balada ku
***
Bangkit melawan keterpurukan…
inilah aku yang paling menyukai suara adzan
yang dikomandankan di langit bumi. lantunan lafalnya membuat ku makin hidup.
ditambah kemerduan suara muazzin yang terus menggetarkan jiwa. Ya Tuhan
hari-hari ku di bumi kinanah begitu mebosankan. Sudah tiga tahun lebih
pencapain akademis masih bermodal ciut. Aku pun berinisiatif untuk mengambil
sebuah langkah. Tapi, apakah jalan yang akan aku tempuh ini benar.
Aku makhluk yang terus berfikir, dan kini
di dalam kergauan, ketika aku membaca materi kuliah terasa jiwa ini sudah
sampai pada proses pendidikan yang tinggi. ketika aku termenung, terdiam, jatuh
di lembah hitam, aku merasakan ketidak pantasan diri ini bersanding pada
cita-cita yang besar. sukses adalah
kalkulasi dari sukses-sukses di jangka pendek. aku masih belum bisa membandingkan
diriku. selalu jatuh dikala capaian ku sudah tinggi. sekarang aku tinggal apa, termenung
sementara peperangan di depan mata.
sulit rasanya memenangkan diri ini. selalu
saja seperti ini. dikala dihadapkan cobaan berat sulit bagiku untuk bangkit
melawannya. Ya Tuhan berikanlah aku kekuatan untuk ini semua.
Di Apartemen tua aku tinggal bersama 6
orang manusia yang tipenya berbeda-beda. Kadang mereka menghibur ku, dan sulit
bagiku untuk ramah dan berlaku baik pada mereka. Dunia ku begitu sempit. Aku
jarang membagi senyum. Aku kusut bagai benang yang lepas dari gulungannya.
Cobaan seberat apapun pasti Allah sudah
menakarnya. Aku pun berjuang tapi sulit untuk menang. Diriku adalah jiwa besar
ku yang hilang. Mudah-mudahan aku bisa menemukannya di suatu saat. Dimana aku
dihadapkan pada musuh besar aku harus kuat menanganinya. Begitu sulit
membeberkan cobaan naïf itu. Terlalu privasi lagi jorok. Tapi pastinya cobaan
ini berkaitan dengan aku yang sekarang ini.
***
Engkau adalah penyemangat dan penyembuh
dikala aku sedang kacau. Iya kamu.. kamu adalah ukiran kemalasan ku yang kadang
membangkitkan aku untk terus menulis. Iya kertas dan catatam kehidupan
Sekarang aku ingin berbicara tentang
manusia. Muanisa yang sibuk dengan hari esoknya sementara di hari ini ia tidak
menikmati bahkan tidak menghiraukannya. Tahukah engkau manusia itu apa. Makhluk
yang senang berfikir untuk apa, bagaimana, dan kenpa.. pertanyaan-pertanyaan
ini adalah ukuruan kesehatan akalnya. Dimana serangan ini terus mendesak dan
membuat kehidupannya sempit.
Tahukah kamu.. bagaimana manusia hidup.
Hidup dengan pikirannya yang berat. Takut adalah motifnya. Ego adalah
solusinya. Angkauh adalah pakaiannya. Kebanggaan menjadi aroma kehbatannya.
Itulah manusia yang hidup di dunia. Tanpa merendah teru saja naik seperti asap
yang terbang entah kemana.
***
Kembali mengenang masa silam…
sudah lama aku berhenti mengukir penak di
pikiran ini. lama aku tak bercumbu dengan lembaran harap-harap ku. aku seorang
muthowwif, pelayan dan pembimbing ibadah umroh. aku seorang penuntut ilmu di
negri gersang. aku seorang pencari nafkah di negri yang kaya namun miskin di
sisi lain. aku adalah manusia biasa yang kebetulan hidup di tengah orang-orang
hebat. aku itulah aku. aku adalah aku. anak dari pegawai negri yang kini sudah
diinjak usia.
bertahun-tahun sudah berlalau. satu, dua,
dan tiga tahun. aku berada di negrinya musa. disini aku belajar menjadi kuat
dan dewasa. aku belum menemukan cinta untuk aku perjuangkan. aku belum bertemu
dengan siapa yang akan mengisi hari-hari ku. aku bisa merancanag masa depan ku.
bisa menulis lara hatiku. bisa menngoncang dan membanjiri diriku dengan harapan
dan semangat juang. dan itu kadang berakhir miris dengan tumpahnya tetesan suci
buat sang tercinta. memang, dikala nafsu melanda, iman pun kadang sulit
membendung. dikala pondasi lemah bangunanan pun mudah untuk roboh. aku selalau
jatuh tapi aku ingin bangkit.
bangkit dengan tulisan tulisan ku. aku
tidak ingin ada orang yang meremehakn dan mengetahui kelemahan ku, kejelekan
ku, keegoisan ku, dan kesombongan ku. aku ingin menjadi diriku yang sejati. aku
mencintai Mu. aku ingin jatuh di pelukan Mu. hinngga segala perbuatan ku hanya
Engkaulah yang membenarkan. aku selalu salah. inilah salah satu tempat ku dapat
bercengkrama denganMu. aku kadang terfikir untuk menjadi penulis hebat yang
dunia pun tersipuh di hadapan ku.
aku ingin dunia tahu betapa indahNya
perasaanku bila sudah terlebur dengan Zat maha kuasa. tapi kadang orang sulit
menandakannya. aku mungkin berlebihan, fulgar, tidak normal, atau bahkan
ornag-orang bisa menilai ku dengan orang yang tidak baik. Tapi, ini lah aku
yang sedang berjuang. bangkit dan jatuh adalah kebiasaaan ku. di mata orang
mungkin aku arogan dan tidak realisitis. tapi sesekali pernah menggetarkan
sanubari orang yang dilanda sikap arogan dan senusualitas ku. kekanak-kanakan
belum hilang dari ku. dahulu aku dikucilkan karena sikap ku yang seperti itu.
pernah juga orang sulit mendekati ku karna
aku begitu busuk di matanya. Ya Tuhan, mengapa masa kecil ku sangatlah buruk
bila ku kenang. hidup ku bersama kaka tersayang, prilaku ku yang sulit aku
kontrol, sulit bergaul dengan lingkungan, tapi ada seorang kawan yang begtiu
setia dengan ku. bagi ku dia sudah seperti keluarga ku. yang begitu
memperhatikan ku. aku rindu dan ingin terus bermain bersamamnya. hari-hari
sudah berlalu, masanya kini kita berkarya. engkau selalu datang mengisi
kekurangan ku. dikala kaka mu mengejek ku disuatu waktu, engkau hadir sebagai
kawan ku. terakhir kita ketemu engkau masilah Ari yang dulu.
dunia kita berbeda. kini aku menempuh jalan
yang hukumnya fardu kifayah dalam istilah agama kita. engkau tumbuh layaknya
orang-orang pada umumnya. pandai bermusik, pakaian yang serba zamani. itulah
irinya aku padamu. orang tua dengan dunianya yang begitu mendunia. sementara
aku dan keluarga ku seolaha hidup di zaman ketika ayahmu masih kecil, bahkan
lebih jauh sebelum ayahmu lahir. itulah aku iri dengan mu. dikala orang-orang
dapat membanggakan apa yang dia pakai dengan ala modernnya. aku masilah aku.
yang trpaut zaman untuk bisa memnandingi mu Ari.
itulah masa kecilku yang sebagiannya bisa
kuurai dengan kawan masa kecil ku. Andi farid Al farasi. orang tuanya yang
modern membuat dirinya seperti itu. ibuku adalah orang kampung. ayahku pun
tunduk dengan kuasa ibuku. tidak kuliah. ayah ku kuliah, tapi sepuluh tahun
lamanya. setelah menikah seolah siklus pergantian zamannya pun berubah. di
akhir tahun delapan pulu tahunan disitu dunianya berhenti. mereka sudah tidak
melihat apa yang berkmbang diluar rumah. mungkin yang hanya ada di benak mereka
bagaiamana bisa membesarkan anak-anak, dengan pengabdian dan usaha yang mereka
mampu. kami tidak dididik untuk mengikuti zaman, kami tidak diberi peluang
untuk maju seperti anak-anak lain. karena di fikir mereka kehidupan ini
hanyalah perjalanan, bukan gaya untuk hidup.
***
aku ingin bebas….
hari-hari berlalu, menunjukkan sosok mu
pada ku. kata orang memang sulit dipegang. kamu perhatian pada ku. tapi kadang
aku yang menyerang mu. suasana kita memang sulit ditebak. kadang aku melempari
mu dengan sikap ku yang buruk, dan kadang pula sikap ku yang membuat mu sulit.
kini, sososkmu sulit ditebak. riang mu
mulai memudar. entah badai apa yang melanda mu. tapi aku tahu sosokmu kini
menjadi lebih dewasa. kata-katamu aku dengarkan, perbuatan mu aku teladani, dan
cahayamu kian jelas di mataku. apakah gerangan yang membuat engkau makin
bersinar. dan ucapapn mpun tertata menyeret banyak hikmah.
memang setiap orang memendam karakternya
masing-masing. karakter diam dikala ramai, riang diakal sepi. diam dan diam,.
kedewasaaan mu mengajrkan mu untuk cepat
sadar diri. aku tidak setuju semua tentang apa yang kamu tanyakan. bagi ku
begtu sulit menerimamu mengungkapkan apa yang ada di ide mu. sulit menepis
kesombongan ini. sulit berguru pada kata-kata orng yang doktrinnya hanya
sekedar duniawi saja..
maaf.. bila kali ini kita bertingkah,
seolah kita berada di dunia barat. dengan serba keterbatasnku aku melayani aksi
cakap mu yang elok. membicarakan masa depan sementara hari ini kita lepas dari
bacaan, membicarakan uang sementara hari ini kita bukan siapa-siapa.
memusuhi mu dengan kebenaran yang kamu
klaim paling benar. anggapan yang kamu scuikan. dan pandangan awam yang sering
kamu sinidirkan kepada orang-orang khusus. dunia ini menghakimi secara zahir
saja. tapi tahu kah kamu, di balik segala keberadaan ada keberadaan yang
muthlak.?
manusia berfikir hanya sebatas apa yang dia
pandang.
memang, hari-hari kita begitu membingunkan.
aku yang kaku semantara kamu dengan bebas terbang mengangkasa. aku terdiam, dan
berfikir aku untuk aku di masa mendatang. semntara kamu pun begitu. hanya jarak
umur yang memisahkan kita.
kata-kata mu menyebutkan bahwa umur 20
sampai 30, adalah masa produktif bagi lelaki. baiklah, aku akan melakukan hal
yang paling aku bisa di umur-umur seperti ini... terima kasih kawan telah
mengajari ku banyak halll.. "jelasnya di penghujung umur 30 ini saya sudah
ada di dunia barat"... (papar ku dengan nada penuh pengaharapan)
mimpi hanyalah mimpi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar