Belajar itu membuat orang tidak tahu menjadi tahu, Mengupas kepribadian hingga menjadi dewasa, Memb

Senin, 02 Februari 2015

syair hayatku



       bermodal cita-cita engkau datang ke negri fir'aun. dengan kekurangan mu kau tiba dengan segudang cerita dan khayalan. dunia ini milik mereka yang kuat dik. engkau dan harapan mu ingin menggoncang dunia. tapi, lihat lah dirimu...! sekurang apanya dirimu.. apa yang kamu lebihkan dari mereka orang-orang lain. aku keras karena dunia ini keras. kamu bersandar di sisi orang yang berjuang mengejar kehidpannya. semnetara pundakku memikul banyak jiwa.

kau lemah tak sekuat besi. bersandar pada papan yang rapu. meski kamu bisa kembali tegap itupun hanya merepotkan ku. aku harus meluruskan pundak mu. bahkan sesekali menyuapi mu. terus apa yang harus aku kerjakan untuk diriku. sementra diri ini mempunyai adik-adik yang harus diantar menuju gerbang dunianya. sudahlah.. aku tidak meminta kau mengmbalikan itu semua, makanan yang sudah kamu makan, pkaian yang kau pakai.. kamu adalah orang baru dalam hidup ku.. tapi aku berjuang untuk kamu bisa tetap hidup.

memang sulit menjadi orang yang punya, memiliki perasaan yang begitu peka. semua kenikmatan harus dinikamti orang-orang sekitar. semetara bukan mereka yang membanting tulang. bukan mereka yang berjuang. tapi aku... dengan segudang angan aku sisipkan kehidupan ini di saku biruku. berharap Allah menjadikan tabunganku di dunia ini, menjadi  manfaat sampai aku berpindah dari kehidupan fana ke kehidupan yang sebenarnya.

dengan motode mahadahsyatNya, Allah pun mengadakan solusi diantara ego dan keinginan ku untuk berbagi.

lihatlah betapa Tuhan memperlihatkan kebijaksanaan dan keperkasaanNya.  dengan adilnya mengatur segala perkara duniawi setiap insan. aku yang kering akan sedekah ditunjukan kepada orang-orang yang butuh. secara matematis pun tanpa merugikan ku. Ya Allah.. inilah kadar imanku yang masih lemah. mungkin suatu saat bila perkara keimanan itu sudah sampai pada maqam orang-orang bertawakkal, insyaAllah bisa pada tahap dimana hanya kepada Allah seluruh yang aku punya.

kehidupan adalah madrasah. dimana setiap orang belajar pada setiap tingkatannya...

***

Hari ini, diuji lagi dengan sikap ego.. susah mengikhlaskan. pikiran-pikiran terus menghantui, sementara itu hidupku pun terbengkalai. hidupku dimasa sekarang inilah  yang sedang aku lakoni. Hidup di masa mendatang masih misteri Ilahi. entah aku diposisikan di posisi yang mana. tapi, bukan kah  ku harus meraba jadi apa aku nanti. atau hanya diam bersabar dengan kehendak apa Tuhan akan memposisikan ku. Ya Allah, mengapa kehidupan ini begtu sulit, engkau titipkan akal untuk aku berperang melawan diriku. engkau adakan nafsu agar aku bisa makin kuat menghadapi hidup ini.

sementara itu pikiran masih meraja lela di kepala makhluk dhoif ini. seraya menjajah ku sampai aku harus tunduk pada dunia. aku ingin bersabar, tapi sampai kapan. aku ingin melawan, dengan apa. kelemahan itu sulit diterka, kadang kelemahan itu menjadi kuat dan kadang menjadi penguasa diriku. tidak lurus jalan ceritanya, selalu saja berputar pada porosnya. itulah aku dan kekuatan ku. iman itu silih berganti kosistensinya. kadang datang dengen beribu bala pasukannya. kadang hilang entah kemana. aku yang mengaburkannya atau sulit menjaganya..

kesabaran itu kian menjadi balada ku
***

Bangkit melawan keterpurukan…
inilah aku yang paling menyukai suara adzan yang dikomandankan di langit bumi. lantunan lafalnya membuat ku makin hidup. ditambah kemerduan suara muazzin yang terus menggetarkan jiwa. Ya Tuhan hari-hari ku di bumi kinanah begitu mebosankan. Sudah tiga tahun lebih pencapain akademis masih bermodal ciut. Aku pun berinisiatif untuk mengambil sebuah langkah. Tapi, apakah jalan yang akan aku tempuh ini benar.

Aku makhluk yang terus berfikir, dan kini di dalam kergauan, ketika aku membaca materi kuliah terasa jiwa ini sudah sampai pada proses pendidikan yang tinggi. ketika aku termenung, terdiam, jatuh di lembah hitam, aku merasakan ketidak pantasan diri ini bersanding pada cita-cita yang besar.  sukses adalah kalkulasi dari sukses-sukses di jangka pendek. aku masih belum bisa membandingkan diriku. selalu jatuh dikala capaian ku sudah tinggi. sekarang aku tinggal apa, termenung sementara peperangan di depan mata.

sulit rasanya memenangkan diri ini. selalu saja seperti ini. dikala dihadapkan cobaan berat sulit bagiku untuk bangkit melawannya. Ya Tuhan berikanlah aku kekuatan untuk ini semua.
Di Apartemen tua aku tinggal bersama 6 orang manusia yang tipenya berbeda-beda. Kadang mereka menghibur ku, dan sulit bagiku untuk ramah dan berlaku baik pada mereka. Dunia ku begitu sempit. Aku jarang membagi senyum. Aku kusut bagai benang yang lepas dari gulungannya.
Cobaan seberat apapun pasti Allah sudah menakarnya. Aku pun berjuang tapi sulit untuk menang. Diriku adalah jiwa besar ku yang hilang. Mudah-mudahan aku bisa menemukannya di suatu saat. Dimana aku dihadapkan pada musuh besar aku harus kuat menanganinya. Begitu sulit membeberkan cobaan naïf itu. Terlalu privasi lagi jorok. Tapi pastinya cobaan ini berkaitan dengan aku yang sekarang ini.

***

Engkau adalah penyemangat dan penyembuh dikala aku sedang kacau. Iya kamu.. kamu adalah ukiran kemalasan ku yang kadang membangkitkan aku untk terus menulis. Iya kertas dan catatam kehidupan
Sekarang aku ingin berbicara tentang manusia. Muanisa yang sibuk dengan hari esoknya sementara di hari ini ia tidak menikmati bahkan tidak menghiraukannya. Tahukah engkau manusia itu apa. Makhluk yang senang berfikir untuk apa, bagaimana, dan kenpa.. pertanyaan-pertanyaan ini adalah ukuruan kesehatan akalnya. Dimana serangan ini terus mendesak dan membuat kehidupannya sempit.
Tahukah kamu.. bagaimana manusia hidup. Hidup dengan pikirannya yang berat. Takut adalah motifnya. Ego adalah solusinya. Angkauh adalah pakaiannya. Kebanggaan menjadi aroma kehbatannya. Itulah manusia yang hidup di dunia. Tanpa merendah teru saja naik seperti asap yang terbang entah kemana.  

***

Kembali mengenang masa silam…
sudah lama aku berhenti mengukir penak di pikiran ini. lama aku tak bercumbu dengan lembaran harap-harap ku. aku seorang muthowwif, pelayan dan pembimbing ibadah umroh. aku seorang penuntut ilmu di negri gersang. aku seorang pencari nafkah di negri yang kaya namun miskin di sisi lain. aku adalah manusia biasa yang kebetulan hidup di tengah orang-orang hebat. aku itulah aku. aku adalah aku. anak dari pegawai negri yang kini sudah diinjak usia.

bertahun-tahun sudah berlalau. satu, dua, dan tiga tahun. aku berada di negrinya musa. disini aku belajar menjadi kuat dan dewasa. aku belum menemukan cinta untuk aku perjuangkan. aku belum bertemu dengan siapa yang akan mengisi hari-hari ku. aku bisa merancanag masa depan ku. bisa menulis lara hatiku. bisa menngoncang dan membanjiri diriku dengan harapan dan semangat juang. dan itu kadang berakhir miris dengan tumpahnya tetesan suci buat sang tercinta. memang, dikala nafsu melanda, iman pun kadang sulit membendung. dikala pondasi lemah bangunanan pun mudah untuk roboh. aku selalau jatuh tapi aku ingin bangkit.

bangkit dengan tulisan tulisan ku. aku tidak ingin ada orang yang meremehakn dan mengetahui kelemahan ku, kejelekan ku, keegoisan ku, dan kesombongan ku. aku ingin menjadi diriku yang sejati. aku mencintai Mu. aku ingin jatuh di pelukan Mu. hinngga segala perbuatan ku hanya Engkaulah yang membenarkan. aku selalu salah. inilah salah satu tempat ku dapat bercengkrama denganMu. aku kadang terfikir untuk menjadi penulis hebat yang dunia pun tersipuh di hadapan ku.

aku ingin dunia tahu betapa indahNya perasaanku bila sudah terlebur dengan Zat maha kuasa. tapi kadang orang sulit menandakannya. aku mungkin berlebihan, fulgar, tidak normal, atau bahkan ornag-orang bisa menilai ku dengan orang yang tidak baik. Tapi, ini lah aku yang sedang berjuang. bangkit dan jatuh adalah kebiasaaan ku. di mata orang mungkin aku arogan dan tidak realisitis. tapi sesekali pernah menggetarkan sanubari orang yang dilanda sikap arogan dan senusualitas ku. kekanak-kanakan belum hilang dari ku. dahulu aku dikucilkan karena sikap ku yang seperti itu.

pernah juga orang sulit mendekati ku karna aku begitu busuk di matanya. Ya Tuhan, mengapa masa kecil ku sangatlah buruk bila ku kenang. hidup ku bersama kaka tersayang, prilaku ku yang sulit aku kontrol, sulit bergaul dengan lingkungan, tapi ada seorang kawan yang begtiu setia dengan ku. bagi ku dia sudah seperti keluarga ku. yang begitu memperhatikan ku. aku rindu dan ingin terus bermain bersamamnya. hari-hari sudah berlalu, masanya kini kita berkarya. engkau selalu datang mengisi kekurangan ku. dikala kaka mu mengejek ku disuatu waktu, engkau hadir sebagai kawan ku. terakhir kita ketemu engkau masilah Ari yang dulu.

dunia kita berbeda. kini aku menempuh jalan yang hukumnya fardu kifayah dalam istilah agama kita. engkau tumbuh layaknya orang-orang pada umumnya. pandai bermusik, pakaian yang serba zamani. itulah irinya aku padamu. orang tua dengan dunianya yang begitu mendunia. sementara aku dan keluarga ku seolaha hidup di zaman ketika ayahmu masih kecil, bahkan lebih jauh sebelum ayahmu lahir. itulah aku iri dengan mu. dikala orang-orang dapat membanggakan apa yang dia pakai dengan ala modernnya. aku masilah aku. yang trpaut zaman untuk bisa memnandingi mu Ari.

itulah masa kecilku yang sebagiannya bisa kuurai dengan kawan masa kecil ku. Andi farid Al farasi. orang tuanya yang modern membuat dirinya seperti itu. ibuku adalah orang kampung. ayahku pun tunduk dengan kuasa ibuku. tidak kuliah. ayah ku kuliah, tapi sepuluh tahun lamanya. setelah menikah seolah siklus pergantian zamannya pun berubah. di akhir tahun delapan pulu tahunan disitu dunianya berhenti. mereka sudah tidak melihat apa yang berkmbang diluar rumah. mungkin yang hanya ada di benak mereka bagaiamana bisa membesarkan anak-anak, dengan pengabdian dan usaha yang mereka mampu. kami tidak dididik untuk mengikuti zaman, kami tidak diberi peluang untuk maju seperti anak-anak lain. karena di fikir mereka kehidupan ini hanyalah perjalanan, bukan gaya untuk hidup.

***

aku ingin bebas….

hari-hari berlalu, menunjukkan sosok mu pada ku. kata orang memang sulit dipegang. kamu perhatian pada ku. tapi kadang aku yang menyerang mu. suasana kita memang sulit ditebak. kadang aku melempari mu dengan sikap ku yang buruk, dan kadang pula sikap ku yang membuat mu sulit.

kini, sososkmu sulit ditebak. riang mu mulai memudar. entah badai apa yang melanda mu. tapi aku tahu sosokmu kini menjadi lebih dewasa. kata-katamu aku dengarkan, perbuatan mu aku teladani, dan cahayamu kian jelas di mataku. apakah gerangan yang membuat engkau makin bersinar. dan ucapapn mpun tertata menyeret banyak hikmah.

memang setiap orang memendam karakternya masing-masing. karakter diam dikala ramai, riang diakal sepi. diam dan diam,.

kedewasaaan mu mengajrkan mu untuk cepat sadar diri. aku tidak setuju semua tentang apa yang kamu tanyakan. bagi ku begtu sulit menerimamu mengungkapkan apa yang ada di ide mu. sulit menepis kesombongan ini. sulit berguru pada kata-kata orng yang doktrinnya hanya sekedar duniawi saja..

maaf.. bila kali ini kita bertingkah, seolah kita berada di dunia barat. dengan serba keterbatasnku aku melayani aksi cakap mu yang elok. membicarakan masa depan sementara hari ini kita lepas dari bacaan, membicarakan uang sementara hari ini kita bukan siapa-siapa.

memusuhi mu dengan kebenaran yang kamu klaim paling benar. anggapan yang kamu scuikan. dan pandangan awam yang sering kamu sinidirkan kepada orang-orang khusus. dunia ini menghakimi secara zahir saja. tapi tahu kah kamu, di balik segala keberadaan ada keberadaan yang muthlak.?

manusia berfikir hanya sebatas apa yang dia pandang.

memang, hari-hari kita begitu membingunkan. aku yang kaku semantara kamu dengan bebas terbang mengangkasa. aku terdiam, dan berfikir aku untuk aku di masa mendatang. semntara kamu pun begitu. hanya jarak umur yang memisahkan kita.

kata-kata mu menyebutkan bahwa umur 20 sampai 30, adalah masa produktif bagi lelaki. baiklah, aku akan melakukan hal yang paling aku bisa di umur-umur seperti ini... terima kasih kawan telah mengajari ku banyak halll.. "jelasnya di penghujung umur 30 ini saya sudah ada di dunia barat"... (papar ku dengan nada penuh pengaharapan)

mimpi hanyalah mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar