Belajar itu membuat orang tidak tahu menjadi tahu, Mengupas kepribadian hingga menjadi dewasa, Memb

Sabtu, 02 Juli 2016

RUANG

Aku disini menjelma menjadi pribadi baru, pribadi yang mungkin kamu tidak kenal, pribadi yang jauh dari padandangan dangkal mu. pandagan matematis yang hanya memikirkan satu sosok, sosok yang rapi dan ulet, sosok penyabar dan lebih suka mendengar masukan, sosok yang santai dan suka akan ketenangan. sosok itukan yang kamu cari, kamu dambakan bahkan kamu nanti. ingatkah perkataan mu dilkala kamu berkata diakhir Vidoe note di awal2 kita mulai dekat, engkau berkata untuk menanti lelaki yang memperjuangkan cintanya. di situ aku terdorong, beharap, akulah yang menjadi pria beruntung itu. 

THE IDEALIST
kedekatan makin bersahaja dan dirimu begitu mengindahkan kebersamaan.,aku terhanyut dan dibawa dalam harapan besar, mungkin cinta seperti ini. tapi, engkau tidak ingin mendengar kata cinta. engkau lebih ingin menjadi pecinta dikala daun sudah tersisir angin. daun telah bertebaran pada waktu yang Allah siapkan. Musim gugur. Ya.. musim gugur yang mengugurkan harapan menjadi daun kering tersapu dan dibuang untuk dihilangkan.


Begitulah kecintaan yang diawali dengan ketidak jelasan. Logika mendorong tapi nafsu terus mendera. Keinganan untuk bersua menjadi cara untuk membisikkan jiwa mu. Aku ada dan kau makin menjauh. Sulit diartikan memang. Langkah mu terus melejit menjadi wanita hebat. Aku pun disni dipenjarakan pada keadaan. Aku dirundung ketidaknyaman, harus disingkirkan seperti dedaunan di musim gugur. Kapankah musim semi itu kembali mewarnai hidup ku. Wanita yang aku damba sekian lamanya hilang dan aku harus menetap dalam ruang dimana aku dipenjarakan. 


Penjara apa yang aku maksud?

Penjara ini adalah masa rehabilitasi bagi saya, masa pemulihan, masa berfikir, masa mencermati keadaan-keadaan sebelumnya, Masa perenungan, dan masa untuk tidak keluar dan mecari angin yang lebih baik. Aku dipenjarakan dalam ruang hampah. Gelap dan hanya setitik cahaya masuh dari lobang kecil. Lubangan kecil yang membuat ada harapan. Harapan itu menjelma dan kini aku lebih senyap teduh dan makin nikmat rasa ku bila bersama harapan itu.


Aku mengintip ke lubang tersebut. Apakah di luar sana masa ada keindahan, masih ada harap untuk bisa kembali bangkit. Rasanya, penjara ini lebih baik bagi ku. Aaku memilih hidup seperti ini. Dalam sendiri hanya bisa bermunajat. Dalam sepi aku mengirimkan doa untuk jiwa-nya yang tengah berjuang. Dalam relung jiwa yang terbisikkan rindu. Aku memohon agar kesepian ini berujung pada kematian yang baik. Iya, mati adalah harapan setiap manusia. Di luar sana, banyak hal yang akan menghantam hidup ku. Social, keluarga, ekonomi, bahkan akademik yang menjadi musuh pemikiran ku. Aku tidak ingin keluar dan aku ingin tetap bercumbu dengan asah ku.


Cita-cita ku dibuat pupus di awal keindahan  paripurna. Denyut nadi ini berdenyuk tiada karuan. Ayahanda yang terjatuh sakit akibat ulah ku. Ibu ku yang selalu mendukug keputasan ku kini disibukkan sebagai tulang punggung juga penyemangat ku, bayangkan perjuangan ini? Menghabiskan segala apa yang dimiliki hanya untuk sebuah pertemuan semu. Frustasi yang berat yang melayang dimakan ego dan ekspekatasi, dalam keadaan ku yang termakan SAHABAT sendiri. Kenapa masih saja ekspektasiku kamu tuntut. Mengapa iming-imng itu masih dipertanyakan, aku sudah berjuang sejauh ini,. Tapi engkau tidak memilik insting yang baik terhadap sesama. Apakah sangkaan terhadap mu ini benar, atau hanya alam pemikiran liar ku saja. 


Mengapa Allah menitipkan rasa ini. Agar aku bersabar? Aku agar aku lebih menghargai? Agar aku  menjadi seorang yang mengisi masa depan gemilang, atau kehadiran mu sebagai penguat langkah ku? Mungkin apa saja bisa terjadi, aku masih bisa melawan kesepian ini. Bersabar dan menanti musim kembali bersemi. Harapan tumbuh bersama dedaunan yang kembali tumbuh, mencuat dan menggambarkan indahnya dunia ini. Aku tahu bahwa Allah sayang pada ku, tapi aku lebih tahu bahwa Allah tidak akn meninggalkan ku dimana pun aku berada. 

mengemis harapan dan hilangnya harga diri sempat ku pertanykan. mengapa waktu tiga hari tanpa kabar kau tidak terus terang dan menyatakan kebingungan mu. banyak orang mengorbitimu. banyak hal yang kamu bisa kerjakan. tapi, kau tetap datang memenuhi panggilan itu. aku jujur, aku rela melihat mu teduh dan berteteskan air mata di tempat paling mulia itu. pandangan ku yang sulit aku jaga, membuat ku semakin malu dihapan Tuhan. aku menjerit memohon agar aku bisa menjadi orang yang lebih bisa menghargai. meski hanya tatapan. tapi kini tatapan itu membuatku jauh dan hilang lah semua.

mulai dari pertemanan yang akrab, obrolan yang mendamaikan rongka pikiran, dan semua apa saja menjadi hal indah untuk dikenang. berubah menjadi susana buruk. aku seperti robot yang harus bekerja seperti  mesin komputer. seolah aku ini tiada perasaan yang dipandang hanya sebuah sistem. seolah aku mesin yang hanya dituntut andil dalam bersikap profesional., kesibukan mu menutp mata hati mu. dalam keadaan yang melilit dan diremukkan oleh keadaan super gila. hutang merintih, orang tua yang dirawat strok karena penyakit jantung dan komplikasi, aset semata wayang tergadai, hutang dan rasa malu terbuai dimana-mana. tapi engkau belum bisa memahami..

jadilah aku makhluk angker yang harus dihandari dan ditakuti. seperti sebuah bangunan rapuh yang hanya untuk dirobohkan. bebatuannya djadikan bahan timbunan, besi dan perkakas lainnya dapat dimanfaatkan dan dijual bagi yang membutuhkan. diobral seperti pakaian di pasar murah.  digunjing seperti beberapa ibu rumah tangga yang bergaduh di tempat penjualan sayur. kemarahan yang memerah, menuntut gaji yang untuk hidup ku sendiri yang sulit aku penuhi kebutuhan ku. menuntut dihargai padahal aku dianggap tiada harganya. pikirlah sayang.. aku masih waras. aku hidup dan dipenjarakan dalam ruang suci. meski sepi dan hanya sayapan2 doa yang terurai.meski lantunan maha suci Allah menjadi obat ku dikala merindu. itulah aku yang kau anggap manusia ahli nereka karna perbuatan tidak sesuai dengan pa yang aku katakan.

terimaksih sudah mengingatkan, dan menyeretku ke tempat terdamai ini. meski sulit memaafkan. meski rasa kcewa itu sempat ada. meski keputusan itu membuat mu menjadi orang yang semakin tangguh. maafkan aku yang pernah hadir dalam hidup mu.





 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar